Rujukan Filsafat Ilmu dalam Integrasi Agama dan Sains serta Sejarah Perkembangannya
DOI:
https://doi.org/10.64499/eduaksara.v5i1.259Kata Kunci:
Agama, Filsafat Ilmu, Integrasi Ilmu, Sains, SejarahAbstrak
Filsafat, ilmu, dan agama merupakan tiga pilar yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun peradaban manusia. Filsafat menyediakan fondasi konseptual yang memandu arah ilmu pengetahuan, sementara sains berperan sebagai manifestasi empiris dari refleksi filosofis. Agama, khususnya dalam tradisi Islam, memberikan nilai etis dan spiritual yang menjaga ilmu agar tidak kehilangan arah. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana filsafat berperan dalam mengintegrasikan ilmu dan sains, serta bagaimana pandangan Al-Qur’an dan sejarah Islam mendukung proses integrasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka dengan merujuk pada karya-karya klasik filsafat Barat (Russell, Popper, Kuhn, Lakatos), serta karya filsuf dan cendekiawan Muslim (Al-Attas, Fazlur Rahman, Mulyadhi Kartanegara). Hasil kajian menunjukkan bahwa sejak Yunani Kuno hingga era kontemporer, ilmu pengetahuan tidak pernah terlepas dari kerangka filosofis. Pada masa keemasan Islam, integrasi filsafat, agama, dan sains melahirkan peradaban ilmu yang gemilang. Al-Qur’an sendiri mendorong manusia untuk menggunakan akal, meneliti fenomena alam, dan menjadikan ilmu sebagai sarana mengenal Allah. Relevansi kontemporer integrasi ini sangat kuat, terutama dalam menghadapi krisis lingkungan, tantangan etika teknologi, serta dehumanisasi akibat perkembangan sains modern. Dengan demikian, integrasi filsafat, ilmu, dan agama menjadi landasan penting untuk membangun ilmu pengetahuan yang utuh, bermakna, dan bermanfaat bagi kemanusiaan.
Referensi
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the metaphysics of Islam: An exposition of the fundamental elements of the worldview of Islam. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of knowledge: General principles and work plan. International Institute of Islamic Thought (IIIT).
Departemen Agama Republik Indonesia. (2005). Al-Qur’anul karim. PT Syaamil Cipta Media.
Feyerabend, P. (1993). Against method: Outline of an anarchistic theory of knowledge (3rd ed.). Verso.
Jonas, H. (1984). The imperative of responsibility: In search of an ethics for the technological age. University of Chicago Press.
Kaelan. (2010). Filsafat ilmu: Ontologi, epistemologi, aksiologi, serta logika ilmu pengetahuan. Paradigma.
Kartanegara, M. (2005). Integrasi ilmu: Sebuah rekonstruksi holistik. Mizan.
Kuhn, T. S. (2012). Peran paradigma dalam revolusi sains. Remaja Rosdakarya.
Lakatos, I., & Musgrave, A. (Eds.). (1996). Kritik dan pertumbuhan pengetahuan. Yayasan Obor Indonesia.
Naess, A. (1973). The shallow and the deep, long-range ecology movement. Inquiry: An Interdisciplinary Journal of Philosophy, 16(1–4), 95–100. https://doi.org/10.1080/00201747308601682
Nasr, S. H. (1996). Science and civilization in Islam. Harvard University Press.
Popper, K. R. (2002). Logika penemuan ilmiah. Remaja Rosdakarya.
Rahman, F. (1984). Islam dan modernitas. Pustaka.
Russell, B. (2004). Sejarah filsafat Barat. Pustaka Pelajar.
Suriasumantri, J. S. (2005). Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer. Pustaka Sinar Harapan.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Kategori
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 MULYATI MULY, Zulkifli Musthan

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.













