KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PERANTAU BUGIS

Penulis

  • Dr. Sitti Murni Kaddi, S.Sos, M.I.Kom.
  • Dr. Fadhliah, S.Sos., M.Si
  • Dr. M. Junaidi, S.Sos, MA.
  • Muh. Zainuddin Badollahi, S.Sos., M.Si.
  • Roman Rezki Utama, M.I.Kom.
  • Hilda Anjarsari, S.S., M,Si.

Kata Kunci:

Komunikasi, Antarbudaya, Perantau, Bugis

Abstrak

Merantau menurut orang Bugis dapat dibagi menjadi dua yaitu “mallekke dapureng” dan “sompe”. “Malleke dapureng” (memindahkan dapur) sedangkan “sompe” (berlayar). Hal ini dikonotasikan berpindah habitasi yang disebabkan prinsip yang mendasar dan mengacu untuk mempertahankan tata nilai yang menjadi pandangan hidup etnik Bugis, yaitu apa yang disebut siri (malu). Merantau tidak selalu karena faktor malu, tetapi karena keinginan memperbaiki nasib di negeri lain, menjalani kehidupan baru, untuk mewujudkan impiannya dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik Peran etnik Bugis perantau yang telah bermigrasi sejak abad XVII di daerah Pasangkayu dan memiliki pengaruh signifikan dalam membangun jaringan sosial ditengah keberagaman multikultural yang ada. Multikultural dalam masyarakat dapat dimaknai dari dua aspek yang berbeda. Multikultural dari aspek positif merupakan kekayaan yang berharga dan unik karena merepresentasikan dinamika hidup yang diwarnai oleh keberagaman suku, agama dan budaya. Sebaliknya, kondisi multikultural ini jika tidak dikelola dengan baik maka berpotensi menimbulkan konflik karena masyarakat terbagi dalam kelompok- kelompok berdasarkan perbedaan identitas kulturalnya masing-masing.

Diterbitkan

2026-04-19

Cara Mengutip

Dr. Sitti Murni Kaddi, S.Sos, M.I.Kom., Dr. Fadhliah, S.Sos., M.Si, Dr. M. Junaidi, S.Sos, MA., Muh. Zainuddin Badollahi, S.Sos., M.Si., Roman Rezki Utama, M.I.Kom., & Hilda Anjarsari, S.S., M,Si. (2026). KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PERANTAU BUGIS. Repository Global Aksara Pers, 5(1). Diambil dari https://jurnal.globalaksarapers.com/index.php/repository/article/view/298